Sabtu, 04 Juni 2016

PSIKOTERAPI



RATIONAL EMOTIVE THERAPY



1.      Konsep Dasar RET


Tokoh utama dalam Rasional Emotive Therapy atau RET adalah Albert Ellis. RET didasarkan atas filosofi bahwa “apa yang mengganggu jiwa manusia bukanlah peristiwa-peristiwa, tetapi bagaimana manusia itu mereaksi atau berprasangka terhadap peristiwa-peristiwa tersebut”. RET tidak memusatkan perhatian atas peristiwa-peristiwa masa lalu, tetapi lebih kepada peristiwa yang terjadi saat ini dan bagaimana reaksi terhadap peristiwa tersebut. RET juga percaya bahwa setiap manusia mempunyai pilihan, mampu mengontrol ide-idenya, sikap, perasaan dan tindakan-tindakannya serta mampu menyusun kehidupannya menurut kehendak atau pilihannya sendiri. RET didasari asumsi bahwa manusia itu dilahirkan dengan potensi rasional dan juga irrasional. Seseorang berperilaku tertentu karena ia percaya harus bertindak dalam cara itu. Sedangkan gangguan emosional terletak pada keyakinan irasional. Dengan kata lain keyakinan irasional lah yang menyebabkan gangguam emosional.


1.      Tujuan Terapi RET

Tujuan dilaksanakannya konseling RET adalah mengajarkan klien untuk berpikir dan secara personal lebih puas dalam cara-cara merealisasikan pilihan-pilihan antara kebencian diri dan perilaku negatif, meningkatkan perilaku yang positif dan efisien.


1.      Teknik Terapi RET

a.        Teknik- teknik Kognitif
Teknik-teknik kognitif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berpikir klien. Teknik-teknik ini meliputi:
1)        Pengajaran              : Menunjukkan betapa tidak logisnya cara berpikir klien sehingga menimbulkan gangguan emosi dan mengajarkan cara-cara berpikir yang lebih positif dan rasional.
2)        Persuasif                  : Melalui berbagai argumentasi, konselor meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya yang keliru.
3)        Konfrontasi             : Menyerang ketidakrasionalan berpikir klien dan membawanya ke arah berpikir yang lebih rasional.
4)        Pemberian Tugas  : Memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi yang nyata.
 


b.              Teknik-teknik Emotif
Teknik-teknik emotif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah emosi klien. Dalam teknik ini, konselor harus mampu menerima klien tanpa syarat. Termasuk teknik ini diantaranya adalah sosiodrama, role playing, modeling ataupun self modeling, latihan asertif (mendorong keberanian dan kebiasaan klien dengan pola perilaku tertentu yang diinginkannya), humor serta latihan melawan rasa malu.

c.             Teknik-teknik Perilaku
Teknik ini digunakan untuk mengubah tingkah laku klien yang tidak diinginkan. Termasuk teknik ini adalah melalui penerapan prinsip penguatan (reinforcement). Teknik permodelan sosial (social modeling), serta relaksasi.






TERAPI PERILAKU (BEHAVIORAL THERAPY)


1. Konsep Dasar Terapi Perilaku (Behavioral Therapy)

Pada dasarnya menusia bersifat mekanistik dan hidup dalam alam yang deterministik dengan sedikit peran aktifnya untuk martabatnya. Perilaku manusia adalah hasil respon terhadap lingkungan dengan kontrol yang berbatas dan melalui interaksi ini kemudian berkembang pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Perilaku manusia merupakan hasil dari proses belajar, sehingga dapat dirubah dengan memanipulasi kondisi-kondisi belajar. Dengan demikian, teori konseling behavioral hakekatnya merupakan aplikasi prinsip-prinsip dan teknik belajar secara sistematis dalam usaha menyembuhkan gangguan tingkah laku. Asumsinya bahwa gangguan perilaku atau tingkah laku itu diperoleh, melalui hasil belajar yang keliru dan karenanya harus diubah melalui proses belajar, sehingga dapat lebih sesuai.

2. Tujuan Terapi Perilaku  

a.   Menghapus pola-pola perilaku maladaptif anak lebih membantu mereka mempelajari pola-pola tingkah laku yang lebih konstruktif. 
b.   Mengubah tingkah laku maladaptif anak 
c.   Menciptkan kondisi-kondisi yang baru yang memungkinkan terjadinya proses belajar ulang.  

3. Metode Terapi Perilaku 
a.   Operant Learning   
Dalam metode ini yang penting adalah penguatan yang dapat menghasilkan perilaku yang diharapkan, serta pemanfaatan situasi diluar klien yang dapat memperkuat perilaku klien yang dikehendaki. Penguatan hendaknya sesuai kebutuhan anak dan diberikan sistematis dan untuk itu konselor harus mengetahui kapan dan bagaimana penguatan itu diberikan dan merancang perilaku yang memerlukan penguatan. 
b.   Unitative Learning atau Social Modeling
Dalam metode ini yang penting adalah perlunya konselor merancang perilaku adaptif yang dijadikan model bagi klien, baik dalam bentuk rekaman, pengajaran berprogram, video, film, biografi atau orang. Model yang dipilih hendaknya subjek yang berprestise, kompeten, aktraktif (menarik), dan berpengaruh.
     c.   Cognitive Learning 
       Metode ini lebih banyak menekankan pentingnya aspek perubahan kognitif klien. Dapat pelaksanaannya dapat dilakukan melalui pengajaran secar verbal, kontrak antara konselor dengan klien dan bermain peran.
a.       Emotional Learning
Metode ini diterapkan untuk individu yang mengalami kecemasan, melalui penciptaan situasi rileks dengan menghadirkan rangsang untuk menimbulkan kecemasan bersama dengan suatu rangsang yang menimbulkan kesenangan, sehingga secara berangsur kecemasan tersebut berkurang dan akhirnya dapat hilang.
Sedangkan teknik yang digunakn dalam pendekatan atau metode diatas antara lain:
1)      Desentisisasi Sistematis
Suatu cara yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperbuat secara negatif dengan menyertakan pemunculan tingkah laku yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapusnya.
2)      Latihan Asertif
Latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang menimbulkan kecemasan, dengan cara mempertahankan hak dan harga dirinya.
3)      Terapi Aversi
Digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk atau menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku positif.
4)      Penghentian Pikiran
Teknik ini efektif digunakan untuk klien yang sangat cemas. Caranya, misal klien ditutup matanya sambil membayangkan dan mengatakan sesuatu yang mengganggu dirinya, misal berkata “saya jahat” – pada saat itu klien diberi tanda, kemudian terapi berteriak dengan keras dan nyaring berkata “berhenti”. Jadi, pikiran yang tadi digantiakan dengan teriakan terapi, berulang-ulang sampai dirinya sendiri yang bisa menghentikannya.
5)      Kontrol Diri
Dilakukan untuk meningkatkan perhatian pada anak tentang tugas-tugas tertentu. Melalui prosedur self assesment mencatat diri sendiri, menentukan tindakan diri sendiri dan menyusun dorongan diri sendiri.
6)      Pekerjaan Rumah
Dengan memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada klien yang kurang mampu menyesuaikan diri dengan situasi tertentu.



GROUP THERAPY
 
1.    Konsep Dasar

Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan gangguan interpersonal (Yosep dalam Sitohang, 2011). 

2.    Tujuan Terapi Kelompok  
Terapi Kelompok adalah bentuk terapi yang melibatkan satu kelompok dari pertemuan yang telah direncanakan oleh seorang terapis yang ahli untuk memfokuskan pada satu atau lebih dalam hal: 
a. Kesadaran dan pengertian diri sendiri. 
b. Memperbaiki hubungan interpersonal. 
c. Perubahan tingkah laku.  

3.    Teknik-Teknik Terapi Kelompok  

            a.     Psikodrama (role playing)
     Dibuat oleh Jacob Moreno pada tahun 1920 yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada klien untuk katarsis, berperilaku spontan, dan saling memahami antar-anggota. Pada teknik ini ada tahap dimana klien memperagakan peristiwa hidupnya yang siginifikan dihadapan anggota lainnya Ada juga tahap dimana anggota berperan menjadi klien dan klien menjadi individu yang berpengaruh dalam hidupnya dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran klien. Menurut Moreno, bermain peran lebih efektif untuk katarsis dan membebaskan klien untuk berkreasi.
                        b.  Analisis Transaksional
Dikemukakan oleh Eric Berne pada tahun 1950. Menurut Berne, fokus pada pemahaman klien daripada pelepasan emosi, untuk memperoleh insight mengenai kesalahan transaksi yang terjadi. Diawali dengan kontrak ("Saya ingin berhenti merasa depresi") untuk membuat rencana terapi dan evaluasinya (mencari status ego, tipe transaksi/games, naskah hidup)
                        c.  Terapi Perilaku Berkelompok
Pada teknik ini biasanya beberapa orang dengan masalah perilaku yang sama dapat diterapi secara bersama-sama. Terdapat tiga jenis terapi perilaku berkelompok: 1) Systematic Desentizitation (terdiri dari klien-klien dengan phobia yang sama, bersama-sama belajar relaksasi). 2) Assertion Training Groups (anggota bermain peran melakukan perilaku asertif terhadap anggota lain, lalu yang lan memberi komentar). 3) Kontrol yang ditujukan terhadap perilaku tertentu (seperti makan berlebihan). 
d.  T-Groups/Sensitivity Training Group
      Pada teknik ini ditujukan untuk individu normal. Kelompok pada teknik ini terdiri dari 10-15 individu. Bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri; meningkatkan kepekaan perasaan, pikiran, dan tujuan terhadap orang lain; melatih kejujuran dan jadi diri sendiri; belajar memberi dan menerima umpan balik; menyelesaikan konflik interpersonal. Hanya ada trainer yang membantu menentukan tujuan dan arah kelompok serta membantu anggota belajar dari pengalaman 
                   e.  Encounter Groups
     Untuk mengatasi keterasingan terhadap lingkungan, perasaan bahagia, merasa diri 'penuh', bertanggung jawab, punya hubungan dekat dengan orang lain, lebih jadi diri sendiri, dapat mencapai dan berbagi dengan orang lain adalah esensi sebagai manusia. Encounter group memfasilitasi individu untuk menjadi spontan dan merasakan keintiman bersama. Terapis tidak ikut campur dalam proses terapi. Pada awalnya anggota akan kebingungan, tapi lama kelamaan akan terjadi interaksi sehingga spontanitas dan keintiman dapat tercapai.
 

REFERENSI:

Sihotang, L. (2011). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol. Medan: USU.

Sunardi, P & Assjari, M. 2008. Teori konseling. Bandung: PLB FIP UPI

Yalom, I.D.(1975).The Theory and Practice of Group Psychotherapy. New York: Basic Books   

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar