Berikut adalah contoh
kasus dari Petrus Canisius yang dapat diterapkan teori Client Centered Therapy
Saya yang sejak lahir diciptakan dengan keadaan
fisik yang tidak sempurna, tangan dan kaki kanan saya sedikit lumpuh dan tidak
normal seperti layaknya orang lain yang dapat menggunakan semuanya dengan baik.
Ketidaksempurnaan fisik saya banyak berpengaruh pada aktivitas saya
sehari-hari. Jujur saya katakan keadaan fisik saya seperti ini tidak saya
kehendaki, didalam hati dan perasaan, saya merasa marah, sangat tidak terima atas
kenyataan yang ada, kehidupan saya berada pada posisi yang serba salah. Kadang
kala saya depresi atas keberadaan diri ini, pergaulan saya tidak seluwes
orang-orang lain. Sahabat-sahabat saya bisa bermain dengan leluasa, berlari,
berenang, memanjat, belajar dengan mudah secara fisik sementara saya tidak bisa
dan dibatasi oleh keadaan cacat fisik tadi. Sungguh ini sebuah neraka nyata
dalam hidup.
Disetiap pergaulan, pikiran negatif saya selalu
muncul, dia semacam tembok pembatas yang sangat tinggi dan sulit untuk
dilewati. Diri saya berada dalam gejolak yang tidak bahagia, menerima kenyataan
dalam lingkungan nasib tidak beruntung, pasrah dan mudah menyerah, bahkan
sempat mengatakan Tuhan tidak adil terhadap saya. Setiap kali bergaul dengan
teman-teman seusia saya dalam keseharian, selalu saja saya merasa minder, diri
saya adalah yang terburuk, sangat berbeda dan tidak dapat berbuat seperti
mereka.
Citra diri saya waktu itu memang demikian dan
saya belum bisa menerima kenyataan ini secara normal. Saya merasa diri saya
tidak dapat berbuat dan mengerjakan sesuatu seperti sahabat-sahabat saya yang
lain. Mereka memiliki kesempurnaan fisik dan bisa melakukan apa saja yang
mereka inginkan sementara saya tidak. Keadaan seperti inilah menjadi bumerang
yang membuat saya merasa terkucilkan, rendah diri, tidak sempurna dan sangat
berbeda dibandingkan dengan orang lain. Saya menutup diri dan minder, iri
terhadap teman-teman saya. Bahkan perasan mental itu masih ada dan selalu
menyerang saya sampai saya menginjak SLTP.
Sejak masuk SLTP, saya pindah dari desa kecil
dimana kedua orang tua saya tinggal, saya meneruskan pendidikan kekota
kabupaten. Pada awal masa ini saya merasakan dunia yang jauh berbeda, tekanan
terasa sangat kuat, hidup sepertinya tidak semakin baik. Saya ibarat berjalan
sendiri, melakukan banyak aktivitas dan mengurus diri sendiri, bulan-bulan awal
terasa begitu berat dan saya semakin terpuruk kedalam tekanan mental dan
keminderan akut. Tuhan sepertinya memang tidak menggendong saya dalam setiap
keterbatasan, saya berjalan sendiri dalam penderitaan ini, suara Tuhan tidak
menggaung dalam benak saya dan itu saya biarkan saja. Masa itu Tuhan saya
pandang sebagai pencipta yang tidak menghendaki saya lahir. Itulah cap-cap yang
saya patri untuk membenarkan apa yang saya pikirkan karena keterbatasan tadi.
ANALISIS
Klien mengalami ketidakcocokan antara pandangan
klien tentang dirinya sendiri (self-concept) atau pandangan yang disukai klien
tentang dirinya. Klien berkeinginan seperti orang-orang normal yang dapat melakukan
berbagai hal. Yang melandasi klien untuk konseling bisa saja karena perasaan
tidak berdaya, tidak kuasa dan tidak berkemampuan untuk membuat putusan dan
untuk mengarahkan hidupnya sendiri secara efektif
Konselor harus menciptakan iklim konseling hingga membuat
klien bisa mengungkapan dan mengkomunikasikan penerimaan, respek dan pengertian
serta berbagai upaya dengan klien dalam mengembangkan kerangka acuan internal
dengan memikirkan, merasakan dan mengeksplorasi dalam lingkungan yang aman dan
dipercaya aspek-aspek dunia pribadinya yang tersembunyi. Konselor harus mampu
menerima tanpa syarat terhadap klien, serta mendorong klien secara
perlahan-lahan pada pemahaman terhadap apa yang ada dibalik itu semua.
Konseling diharapkan klien mampu mengeksplorasi
lingkungan lebih luas dan perasaannya. Serta klien mampu menyatakan ketakutan
dan kecemasannya yang dianggap negative untk diterima dan dimasukan dalam
struktur dirinya. Selanjutnya konselor berusaha memberikan iklim yang mendukung
pertumbuhan ketika konseli berusaha berhubungan dengan perasaannya, dan
menetapkan tujuan serta arah yang tampaknya tepat baginya. Sehingga yang diharapkan, konseli dapat
menemukan jalan keluarnya sendiri.
REFERENSI
http://bruderfic.or.id/h-285/cacat-fisik-bukan-halangan-bagi-saya-untuk-hidup-normal.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar