Jumat, 15 April 2016

KASUS DAN TEKNIK PERSON CENTERED THERAPY



Berikut adalah contoh kasus dari Petrus Canisius yang dapat diterapkan teori Client Centered Therapy

Saya yang sejak lahir diciptakan dengan keadaan fisik yang tidak sempurna, tangan dan kaki kanan saya sedikit lumpuh dan tidak normal seperti layaknya orang lain yang dapat menggunakan semuanya dengan baik. Ketidaksempurnaan fisik saya banyak berpengaruh pada aktivitas saya sehari-hari. Jujur saya katakan keadaan fisik saya seperti ini tidak saya kehendaki, didalam hati dan perasaan, saya merasa marah, sangat tidak terima atas kenyataan yang ada, kehidupan saya berada pada posisi yang serba salah. Kadang kala saya depresi atas keberadaan diri ini, pergaulan saya tidak seluwes orang-orang lain. Sahabat-sahabat saya bisa bermain dengan leluasa, berlari, berenang, memanjat, belajar dengan mudah secara fisik sementara saya tidak bisa dan dibatasi oleh keadaan cacat fisik tadi. Sungguh ini sebuah neraka nyata dalam hidup.
Disetiap pergaulan, pikiran negatif saya selalu muncul, dia semacam tembok pembatas yang sangat tinggi dan sulit untuk dilewati. Diri saya berada dalam gejolak yang tidak bahagia, menerima kenyataan dalam lingkungan nasib tidak beruntung, pasrah dan mudah menyerah, bahkan sempat mengatakan Tuhan tidak adil terhadap saya. Setiap kali bergaul dengan teman-teman seusia saya dalam keseharian, selalu saja saya merasa minder, diri saya adalah yang terburuk, sangat berbeda dan tidak dapat berbuat seperti mereka.
Citra diri saya waktu itu memang demikian dan saya belum bisa menerima kenyataan ini secara normal. Saya merasa diri saya tidak dapat berbuat dan mengerjakan sesuatu seperti sahabat-sahabat saya yang lain. Mereka memiliki kesempurnaan fisik dan bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan sementara saya tidak. Keadaan seperti inilah menjadi bumerang yang membuat saya merasa terkucilkan, rendah diri, tidak sempurna dan sangat berbeda dibandingkan dengan orang lain. Saya menutup diri dan minder, iri terhadap teman-teman saya. Bahkan perasan mental itu masih ada dan selalu menyerang saya sampai saya menginjak SLTP.
Sejak masuk SLTP, saya pindah dari desa kecil dimana kedua orang tua saya tinggal, saya meneruskan pendidikan kekota kabupaten. Pada awal masa ini saya merasakan dunia yang jauh berbeda, tekanan terasa sangat kuat, hidup sepertinya tidak semakin baik. Saya ibarat berjalan sendiri, melakukan banyak aktivitas dan mengurus diri sendiri, bulan-bulan awal terasa begitu berat dan saya semakin terpuruk kedalam tekanan mental dan keminderan akut. Tuhan sepertinya memang tidak menggendong saya dalam setiap keterbatasan, saya berjalan sendiri dalam penderitaan ini, suara Tuhan tidak menggaung dalam benak saya dan itu saya biarkan saja. Masa itu Tuhan saya pandang sebagai pencipta yang tidak menghendaki saya lahir. Itulah cap-cap yang saya patri untuk membenarkan apa yang saya pikirkan karena keterbatasan tadi.

ANALISIS
Klien mengalami ketidakcocokan antara pandangan klien tentang dirinya sendiri (self-concept) atau pandangan yang disukai klien tentang dirinya. Klien berkeinginan seperti orang-orang normal yang dapat melakukan berbagai hal. Yang melandasi klien untuk konseling bisa saja karena perasaan tidak berdaya, tidak kuasa dan tidak berkemampuan untuk membuat putusan dan untuk mengarahkan hidupnya sendiri secara efektif 
Konselor harus menciptakan iklim konseling hingga membuat klien bisa mengungkapan dan mengkomunikasikan penerimaan, respek dan pengertian serta berbagai upaya dengan klien dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan dan mengeksplorasi dalam lingkungan yang aman dan dipercaya aspek-aspek dunia pribadinya yang tersembunyi. Konselor harus mampu menerima tanpa syarat terhadap klien, serta mendorong klien secara perlahan-lahan pada pemahaman terhadap apa yang ada dibalik itu semua.
Konseling diharapkan klien mampu mengeksplorasi lingkungan lebih luas dan perasaannya. Serta klien mampu menyatakan ketakutan dan kecemasannya yang dianggap negative untk diterima dan dimasukan dalam struktur dirinya. Selanjutnya konselor berusaha memberikan iklim yang mendukung pertumbuhan ketika konseli berusaha berhubungan dengan perasaannya, dan menetapkan tujuan serta arah yang tampaknya tepat baginya.  Sehingga yang diharapkan, konseli dapat menemukan jalan keluarnya sendiri.

REFERENSI
http://bruderfic.or.id/h-285/cacat-fisik-bukan-halangan-bagi-saya-untuk-hidup-normal.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar