Sabtu, 18 Juni 2016

REVIEW PSIKOTERAPI

PSIKOANALISIS
Tokoh: Sigmund Freud
Ø  Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi yang menekankan pada pengalaman masa lalu serta perasaan-perasaan yang direpres. Terapi ini berkaitan dengan id, ego dan superego. Dalam terapi psikoanalisi terdapat lima teknik terapi antara lain : (1) Asosiasi Bebas. (2) Interpretasi atau Penafsiran, (3) Analisis Mimpi, (4) Analisis Resistensi dan (5) Analisis Transferensi.

Ø  Kelebihan       : Teknik-teknik dalam terapi psikoanalisis dapat mengungkap masalah klien dari akarnya, yaitu dari masa lalu klien.
Ø  Kekurangan   : Waktu yang diperlukan untuk terapi cukup lama, kemampuan terapis juga harus handal agar tercipta hubungan yang kuat antara klien dengan terapis agar klien mampu mengungkapkan masalah-masalahnya hingga masa lalunya.


HUMANISTIK EKSISTENSIAL
Ø  Terapi Eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Terapi-terapi humanistik-eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar. Terapi humanistik-eksistensial juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien pada masa-masa sekarang – “disini dan kini” – dan bukan pada masa lampau. 

Ø  Kelebihan       : Klien dapat dengan bebas memilih keputusannya sendiri dan terapi ini lebih memanusiakan manusia.
Ø  Kekurangan   : Teknik terapinya kurang begitu tegas dan ketat.

PERSON CENTERED THERAPY
Tokoh: Carl Rogers
Ø  Terapi berpusat pada klien berfokus pada peran klien, bukan ahli terapi, sebagai proses kunci penyembuhan. Menekankan pentingnya relasi antar pribadi. Fungsi konselor dalam terapi ini adalah hanya sebagai pemdamping atau fasilitator, sehingga klien dapat bertanggung jawab dan dapat mengatasi masalahnya dengan kemampuannya sendiri. Teknik-teknik dalam terapi ini meliputi tiga hal yaitu (1) Empati, (2) Positive Regard (penerimaan) dan (3) Congruence.

Ø  Kelebihan       : Klien diberikan kebebasan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri; karena tugas konselor dapat terapi ini hanya sebagai pendamping atau fasilitator maka konselor dapat berperan sebagai teman klien agar saat menjalani terapi klien merasa lebih nyaman.
Ø  Kekurangan   : Tidak semua konselor mampu bersifat netral dalam sebuah hubungan intrapersonal; terapi ini tidak dapat digunakan untuk penderita psikopatologis yang parah.

LOGOTERAPI
Tokoh: Viktor Frankl
Ø  Terapi ini menekankan pada pentingnya segala sesuatu dalam setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl yang dinamakan Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni kebebasan berkeinginan, keinginan akan makna, dan makna hidup. Dalam logoterapi ada empat teknik yaitu: (1) Teknik Intensi Paradoksikal (Perlawanan Terhadap Niat), (2) Derefleksi, (3) Bimbingan Rohani dan (4) Existential Analysis.

Ø  Kelebihan       : Dalam terapi ini mengajakan bahwa hidup itu memiliki makna atau maksud serta tujuan yang harus diupayakan untuk dipenuhi oleh setiap manusia. Sehingga klien menjadi tidak mudah putus asa.
Ø  Kekurangan   : Seringkali klien tidak dapat menunujukkan makna hidupnya sendiri sehingga dapat menimbulkan kebosanan yang merupakan wujud dari seseorang yang merasa kehilangan tujuan hidup. Sehingga menyulitkan konselor untuk melakukan terapi ini.

RATIONAL EMOTIVE THERAPY
Tokoh: Albert Ellis
Ø  RET tidak memusatkan perhatian atas peristiwa-peristiwa masa lalu, tetapi lebih kepada peristiwa yang terjadi saat ini dan bagaimana reaksi terhadap peristiwa tersebut. RET juga percaya bahwa setiap manusia mempunyai pilihan, mampu mengontrol ide-idenya, sikap, perasaan dan tindakan-tindakannya serta mampu menyusun kehidupannya menurut kehendak atau pilihannya sendiri. RET didasari asumsi bahwa manusia itu dilahirkan dengan potensi rasional dan juga irrasional. Teknik dalam terapi RET yang meliputi: (1) Teknik Kognitif, (2) Teknik Emotif dan (3) Teknik Perilaku.
Ø  Kelebihan       : Dapat membantu klien keluar dari pemikiran-pemikirannya yang negatif, dimana pemikiran tersebut dapat membuat klien secara terus menerus berada dalam situasi tersebut dan sulit untuk menemukan pemikiran-pemikiran yang positif dan rasional.
Ø  Kekurangan   : Sulitnya menyatukan persepsi antara konselor dan klien, karena perbedaan latar belakang kehidupan. Apa yang menurut klien adalah suatu irrational thinking belum tentu dianggap sama oleh sang konselor, begitupun sebaliknya.
TERAPI PERILAKU (BEHAVIORAL THERAPY)
Tokoh: Pavlov dan B.F Skinner         
Ø  Perilaku manusia adalah hasil respon terhadap lingkungan dengan kontrol yang berbatas dan melalui interaksi ini kemudian berkembang pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Perilaku manusia merupakan hasil dari proses belajar, sehingga dapat dirubah dengan memanipulasi kondisi-kondisi belajar. Dengan demikian, teori konseling behavioral hakekatnya merupakan aplikasi prinsip-prinsip dan teknik belajar secara sistematis dalam usaha menyembuhkan gangguan tingkah laku. Dalam terapi perilaku terdapat tiga teknik terapi yang meliputi: (1) Operant Learning, (2) Unitative Learning atau Social Modeling dan (3) Cognitive Learning.

Ø  Kelebihan       : Dapat menciptakan perilaku-perilaku baru yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran ulang; perilaku-perilaku yang baru tersebut bersifat menetap dan dapat digunakan apabila klien menghadapi situasi yang sama.
Ø  Kekurangan   : Dapat merubah perilaku seseorang tapi tidak dapat merubah perasaan; pelaksanaan terapi harus dibawah kontrol konselor dan dimanipulasi juga oleh konselor.

GROUP THERAPY
Ø  Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan gangguan interpersonal. Dalam terapi grup terdapat beberapa teknik yaitu (1) Psikodrama, (2)   Analisis Transaksional, (3) Terapi Perilaku Berkelompok, (4) T-Groups/Sensitivity Training Group dan (5) Encounter Groups.

Ø  Kelebihan       : Dapat menyelesaikan permasalahan dengan cara berbagi menceritakan masalahnya masing-masing; Dapat menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda dari setiap orang dalam kelompok.
Ø  Kekurangan   : Konselor hanya sebagai fasilitator dan tidak dapat mendalami permasalahan kliennya secara mendalam satu per satu.

Minggu, 05 Juni 2016

DRAMA PSIKOTERAPI

Terapi pada game addiction”
Kelompok 2 (Terapi behavior & Terapi kelompok)
Bagus Aditya Jaya (Ujang ; Teman Ruben)
Dila Dwisera (Anggun ; Psikolog)
Farouq Faturrahman (Fernando ; Teman Ruben)
Fitriani syahrun (Elisabeth ; asisten Psikolog)
Intan Mutia Murti (Ursula ; Adik Ruben)
Mochamad Ferdy dalasran (Ruben)
Rani Pratiwi Istifarah (Mama Ruben)
Scene 1
(intro)
Ruben: “Assalamualikuuuuuuuuum”...... (Ruben masuk ke rumah dengan berteriak mengucap salam, melempar tas sembarangan, dan masuk ke kamarnya untuk langsung bermain game di PlayStationnya)
Mama Ruben : “Kakaaaaaaa...... ini tas nya dibereskan duluuu!”
Ruben: “iya umiiiiii, nantiiiii...” (sambil asik bermain game)
*1 Jam kemudian....
Mama Ruben : “Kakaa, ini tasnya ditaro dulu ditempatnya. Shalat dulu sana.”
Ruben: “iya miiiiiii entar aja tanggung...”
*2 jam kemudian...
Mama Ruben: “Kakaa, ayo makan duluu..”
Ruben: “Yaudah mi ntar nanggung.”
*3 jam kemudian....
Mama Ruben : “Nanggung, nanggung!!!! Ini juga tas belum juga diberesin! Ya ampun kakaaa udah 3 jam main, belum makan, belum solat, belom mandi.... (sambil membereskan tas Ruben)
Mama Ruben: “ kakaaaa! Apa ini?!” (sambil menunjukkan sebuah kertas dari tas Ruben)
Ruben: “Ah itu mah DP nya aja gak jelas mi. Janjian Rabu, pas kakak mau jalan bilang jadinya Kamis. Pas Kamis, bilang Sabtu. Eh hari Jum’at pagi, kakak disuruh ke kampus. Yaudah deh jadi kena SP, skripsi kakak diancem diulang lagi.”
Mama Ruben: “ ya ampunnn kaka, mau berapa tahun lagi kamu menyelesaikan skripsi?!” (Ruben terdiam)
Urusula: “kaaaak, pinjem laptop dong. Adek mau ngerjain tugas nih...
Ruben: “ yaelaaah, udah tau gua lagi main. Berisik lu..”
Mama Ruben: “Rubeeen jangan begitu dong sama adiknya, tugas adik itu kan lebih penting daripada game yang kamu mainin!”
Ruben: “yaudah tuh dek pake laptopnyaa...!”
*Ruben segera memutar akal agar dia bisa bermain lagi. Akhirnya ruben mendapatkan cara yaitu dengan mematikan aliran listrik rumah....*
Ruben: “yahhhh mati lampu..”
Ursula: “yaaah mati lampu, padahal ini tugas penting banget ya Allah. Yaudah deh mi, adek izin ngerjain tugas ke rumah Olga bareng Sari...”
Mama Ruben: “yaudah dek, hati hati ya...”
Mama Ruben: “haduh kok mati lampu ya...”
Ruben: “yeaay listriknya nyala lagiiiii, lanjuttttt maen ah”
Mama Ruben: “gausah main lagi hari ini ! Benerin dulu itu nilainya baru boleh main lagi”
Ruben: “yaudah deh ah iya mi”
*malamnya
Ruben: “umi, kakak ke rumah Fernando ya mau ngerjain tugas”
Mama Ruben: “yaudah, jam berapa pulangnya ? Jangan malem-malem”
Ruben: “jam 9 mi. Nanti kalau kakak pulang maleman kakak telfon lagi deh”
Mama Ruben: “yaudah nak kabarin ya nanti, hati-hati ya”
*Dan ternyata Ruben dan Fernando tidak pergi kerumah Fernando melainkan pergi ke Rental PS.
*Kemudian Ruben menelfon mi nya bahwa ia menginap di rumah Fernando karena tugasnya banyak, padahal Ruben dan Fernando menginap di Rental PS untuk bermain game disana.
Ruben:”Halo mi Ruben kayanya nginep dirumah Fernando karena tugas banyak banget yang harus diselesaiin”
Mama Ruben:”Iya nak gapapa, tugasnya diselesaikan ya, besok pagi jangan main ya langsung pulang kerumah!”
Ruben:”Iya mi siap”


Scene 2
(SP 2)
*keesokan harinya...
Ruben: “Umi... Kakak berangkat kuliah ya...”
Mamam Ruben: “pulang jam berapa ka ?”
Ruben: “sore mi. Cuma kalau misalnya pulang malem, kakak telfon lagi.”
Mama Ruben: “yaudah hati-hati ya”
*Siang harinya
Fernando: “Assalamuallaikum, Ruben...”
Mama Ruben: “Wa’alaikumsalam. Eh Fernando, ada apa ya ?”
Fernando: “Mau ngasih titipan dari dosen buat Ruben.”
Mama Ruben: ”Kok ngasihnya ga langsung ke Rubennya?”
Fernando: “Ruben bukannya ga masuk, bu?”
Mama Ruben: “Hmm.. Oh yaudah makasih ya..”
Fernando: “Iya, sama-sama, bu. Saya pulang dulu ya, bu. Assalamu’alaikum”
Mama Ruben: “Wa’alaikumsalam..”
Mama Ruben: “ Rubennnn! Dimana kamu? Pulang sekarang!”
Ruben: “iya umi sebentar lagi...”
Mama Ruben: “sekarangggg!!!”
Ruben:”iya mi iya ini ruben langsung pulang”
*Sesampainya Ruben dirumah
Ruben: “Assalamualaikum....”
Mama Ruben:”Waalaikumsalam. Rubeeen! kamu habis darimana?!!!!”
Ruben:”Ya dari kampus lah mii”
Mama Ruben:”terus ini surat apa?? tadi temen kamu Fernando dateng kerumah kasih surat ini, setelah umi baca ini surat SP kamu yang kedua!! Kamu kan tau, masa kamu dikampus itu lagi kritis kalo kamu dapet SP sampai 3x maka kamu akan di DO! kamu sendiri kan yang bilang kaya gitu ke Umi. Sekarang ngaku kamu habis darimana?!!” (terlihat ibu Ruben dan sangat marah)
Ruben:”dari rental PS mi”
Mama Ruben:” Astagfirullah Rubeeeeen, kamu itu udah umur 24 masih main ke rental PS kaya anak SD sebelah? Kamu memangnya gak malu? temen-temen kamu itu udah lulus dan wisuda semua, kamu mau jadi apa Rubeeen?”
Ruben:”ya tapi kan mi Ruben juara turnament Fifa dan dapet uang malah”
Mama Ruben:”Gak ada tapi-tapian, kamu mau lulus kan? mau punya masa depan kan? pokoknya sekarang kamu gak boleh main game!”
Ruben:”yaaaaah jangan gitu dong mi”
Mama Ruben:”Diam kamu! nurut sama orang tua!!”
Ruben:”iyaa deh mi sekarang terserah umi aja”
*Ruben pun masuk kamar dengan penuh penyesalan dan mama Ruben pun duduk menenangkan diri di sofa. Tanpa sengaja terlintas sebuah pikiran dari mama Ruben untuk konsultasi dengan psikolog, akhirnya mama Ruben mencoba mencari info dari internet tentang keberadaan psikolog yang ada didekat rumahnya dan mencoba menelfonnya.
Anggun:”Halo Assalamualaikum, dengan Anggun ada yang bisa dibantu?”
Mama Ruben:”Waalaikumsalam ibu Anggun, benar ini kantor seorang psikolog?”
Anggun:”Benar ibu, tepatnya ini tempat praktek sekaligus karantina”
Mama Ruben:”Saya ingin konsultasi bu mengenai masalah anak saya (menceritakan masalah yang terjadi pada ruben)”
Anggun: “baiklah bu, dari cerita ibu banyak yang mengalami masalah ini dan saya akan mendiskusikannya terlebih dahulu bersama dengan asisten saya sehingga untuk tindak lanjutnya nanti saya akan menghubungi ibu lagi”
Mama Ruben: “baik bu, semua saya percayakan pada ibu”
Scene 3
(Psikolog)
Anggun: “mba, kita dapet case  baru nih. Nih anak addict banget sama game, kuliahnya telat gak kelar-kelar. Ibunya udah angkat tangan sama dia. Jadi gimana kalo kita pake terapi perilaku? Untuk Plan B nya hmm terapi aversi. Jaga-jaga aja sih semoga gak digunain.”
Elizabeth: “kayanya pake disentisasi sistematis cocok deh mba. Jadi kita beri dia pola-pola kebiasaan yang baru misalkan dia boleh main game selama 3 jam tapi sebelumnya dia harus ngerjain hal-hal produktif kaya belajar, ngerjain tugas atau pun ngerangkum matakuliah.”
Anggun: “cocok tu, nanti abis ini saya hubungin ibunya deh.”
*siang harinya...”
Anggun: “selamat siang ibu. Saya anggun, saya psikolog yang akan menangani ruben bu. Untuk menidaklanjuti permasalahan ruben, apakah hari ini saya bisa bertemu ibu dirumah?
Mama ruben: “bisa bu bisa. Datang aja.”
Anggun: “baik bu siang ini saya mampir ya bu.”
*dirumah mama ruben...”
Anggun: “selamat siang ibu, jadi gini bu menurut apa yang ibu ceritakan pada saya. Saya memutuskan untuk menterapi anak ibu dengan menggunakan terapi perilaku dengan teknik disentisasi sistematis dimana anak ibu perlu dibentuk suatu pola –pola baru dalam kebiasaan sehari-harinya. Dikarenakan terapi ini membutuhkan waktu dan harus dibawah kontrol saya jadi anak ibu lebih baik dititipkan di asrama tempat saya praktek.
Mama Ruben: “baik bu, laksanakan saja J....”
Anggun: “baik bu, bagaimana kalo kita mulai terapi ini dari besok. Jadi besok ibu bisa ajak ruben ke tempat praktek saya?”
Mama ruben: “baik bu besok saya bawa ruben ke tempat ibu yaa..”
*besoknya...*
Mama ruben: “pagi bu, ini saya serahin anak saya. Diapain kek biar bener kelakuannya. Pusing saya.”
Anggun: “pagi, oh ini ruben yaaa. Apa kabar ruben?”
Ruben: “Baik.”
Anggun : “ruben hari ini kamu tinggal disini sementara yaa. “
Ruben: “ ummi ini apaan sih. Ngapain ruben mesti disini sih.”
Mama ruben: “ah kamu ikutin aja apa kata mba anggun kamu kan juga gak ada kerjaan dirumah, kamu sendiri yang bilang DP kamu lagi keluar kota.”
Ruben:”Iya ngapain disini emangnya Ruben udah gila apa?”
Anggun: “Ruben ini bukan rumah sakit jiwa, tetapi masalah yang ada dalam diri kamu tidak bisa disembuhkan dengan obat, jadi kamu harus mengubah kebiasaan-kebiasaan kamu dengan terapi disini sehingga menjadi lebih baik untuk kamu dan masa depan kamu”
Ruben:”yaelah mba saya gak punya masalah apa-apa”
Mama Ruben:”GAK LULUS-LULUS EMANG ITU BUKAN MASALAH KAMU APA!!”
Ruben:”ya Allah......”
*setelah mengantar Ruben, mama Ruben pulang kerumah dan Ruben menginap sementara di Karantina*
Anggun:"Ruben, mulai hari ini sampai beberapa hari kedepan kamu tinggal disini yaa. Kamu harus ada niat dari hati supaya kamu gak terus-terusan main game sampe lupa sama kewajiban kamu."
Ruben:"iya mba. Mba bawel amat sih."
Anggun:"(hanya tersenyum kemudian memanggil elizabeth via tlp). Halo mba eli bisa ke ruangan saya sekarang."
Elizabeth:"oke mba, saya akan kesana."
*beberapa saat kemudian*
Elizabeth: "permisi mba"
Anggun:"ya sini-sini mba eli. Mba eli ini ruben yang saya ceritakan kemarin. Dan ruben ini mba eli yang akan dampingi kamu selama disini. Karena  hari ini sudah sore sebaiknya kamu ke kamar mulu. Mba eli anyer ruben ke kamarnya ya."
Elizabeth:" baik mba. Ayo ruben."

Scene 4
(Terapi Disentisisasi Sistematis)

*Day 1
*Elizabeth datang ke kamar ruben dan memberikan lembar berisi peraturan  dan lembar berisi jadwal ruben selama berada dikarantina
Eli:”Ruben mulai hari ini kamu akan dikarantina untuk menjalani terapi selama beberapa hari, saya Elisabet, asisten ibu Anggun yang akan membantu keseharian kamu selama berada dikarantina ini.. (sambil menempelkan dua lembaran peraturan dan jadwal untuk ruben)”
Ruben: “itu apa mba?”
Eli: “ini adalah peraturan karantina yang harus kamu patuhi selama disini, jangan coba-coba melanggarnya yah.. dan yang satu ini lembar jadwal kamu selama menjalani terapi.”
Ruben:”ooh, okedeh mba”
Eli:”okey, kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa bilang pada saya. Sekarang kita keruangannya Bu Anggun. Mari saya antar.”
*diruangan Anggun*
Anggun:"ok kita mulai sekarang yaa ruben gak susah kok, kamu tinggal ikut in semua aturan saya dengan serius yaa. Buang dulu deh pikiran-pikiran mau ngegame, pikiran mama kamu tu bela-belain kamu untuk dibawa kesini supaya jadi lebih baik. Bisa selesai kuliahnya, kamu dengan umur yang sekarang harusnya bisa menentukan mana yang jadi prioritas kamu kuliah atau mau terus-terusan ngegame yang bikin kamu gak selesai-selesai kuliahnya? Harus dipikirin yaa gimana masa depan kamu juga. Masa kamu mau gini-gini aja."
Ruben:”Iya bu, saya juga mau berubah. Cuma susah banget ngerubahnya, abis enak banget ngegame bu. Kayanya tu kalo sehari gak ngegame, kaya makan nasi kurang sambel gitu.”
Anggun:"sudah-sudah, kamu masih boleh main game tenang aja saya kasih kok. Tapiiiii, sebelum ngegame kamu harus ngerjain hal-hal produktif. Misal, kamu sekarang lagi bikin skripsi kan. Udah sampe bab berapa bimbingan ke dosennya?
Ruben:”baru bab 2 bu, hehehe. Males banget saya nyari teori mending main game.”
Anggun:"hmm, kamu tu ya. Yauda kamu boleh main game, tapi nanti. Sekarang kamu kerjain skripsi kamu selama hmm 3jam sampe jam setengah 12 yaa. Makan siang sesuai jadwal, sholat baru kamu boleh main game, dengan catatan skripsi kamu udah dikerjain dan main game hanya boleh berlangsung 3 jam juga."
Ruben:”hufft baiklah. Berat nih berat.”
Anggun:"nanti kamu didampingi mba eli yaa."
Eli:"mba eli tolong dampingi ruben yaa. Catat semua yang dia kerjain, nanti lapor ke saya. Makasih."

*Day 2 (Group Therapy)
*Dihari kedua ruben menjalani group terapi dengan baik, dan Ruben baru mengetahui jika di karantina tersebut ada yang kecanduan game seperti dirinya yaitu Ujang
Ruben:”Jang lo gamers juga? udah dari kapan lo main?”
Ujang:”dari SD gue udah suka main PS, pas SMP gue kenal game online dan keterusan sampe sekarang”
Ruben:”emang lo main game apa?”
Ujang:”Dota 2 ben”
Ruben:”kalo gue main Fifa di PS jang”
Ujang:”yaelah mainan gue waktu SD ahaha”
Ruben:”weeeitts jangan salah gue udah ngehasilin duit dari situ”
*Ujang terdiam dan menatap Ruben
Ruben:”jangan kaget jang biasa aja kalii ahaha”
Ujang:”gue kaget bukan karena uang yang lo dapet, tapi gue juga ngalamin itu dan asal lo tau gue sampe pergi tournament ke Bali dengan hadiah yang gak kecil itulah yang menyeret gue kesini. Awalnya berat disini gue sampe kabur waktu itu tapi terus disini gue dapet banyak pelajaran dan akhirnya gue sadar game ini udah merusak hidup gue”
Ruben:”yaelah jang rusakan mana sama gue gak lulus-lulus kuliah udah umur 24 tahun, dapet SP dua kali dan bakalan di DO sekali lagi SP.
Ujang:”ahaha gue udah di DO”
*Ruben tersentak kaget dan terdiam menatap Ujang
Ujang:”kelarin skripsi lo, emang mau jadi maba lagi?” (ucap Ujang sambil berjalan ke arah kamarnya yang bersebrangan dengan ruben)
Scene 5
(Kabur)
*Day 3
Eli: “halo ruben, gimana kabarnya hari ini? Sekarang jadwal kamu jam setengah 1 baru boleh main game yaa. Jadi sekarang mending kerjain skripsi kamu dulu. Baru nanti boleh main.”
*setelah belajar selama 2 jam Ruben sangat merasa bosan, apalagi bermain game yang dibatasi waktu membuatnya tidak puas. Lalu ia ingat perkataan Ujang kemarin bahwa Ujang pernah kabur dari karantina. Seketika Ruben langsung bergegas menelfon Ursula.
Ursula:”Assalamualaikum”
Ruben:”Waalaikumsalam, dek jemput gue dong di karantina nih, nanti lo izinin gue ke mba Anggun bilang aja kalo umi lagi sakit dirumah dan gue harus pulang ngerawat umi”
Ursula:”Ah gak mau kak Ursula takut gak berani nanti diomelin sama mama”
Ruben:”Tenang aja mama gak bakal tau gue gak pulang kerumah kok”
Ursula:”gak ah kak aku takut”
Ruben:”gini deh kan lo katanya lagi mau beli kado buat pacar lo tuh si Ferdy, nanti lo gue kasih uang 200rb deh buat beli sepatunya, gimana?”
*Ursula hanya terdiam
Ruben:”ayolaah deek pleasee bangeeet gue mohon”
Ursula:”tapi janji ya beneran dikasih 200rb”
Ruben:”pasti gue janji”
Ursula:”yaudah kaka tunggu aja nanti aku kesana”
Ruben:”gituu dooongggg”
*Sesampainya disana Ursula dan Ruben meminta izin kepada ibu Anggun untuk pulang kerumah karena Mama Ruben sakit. Ibu Anggun mengizinkan mereka untuk pulang dan harus kembali ke karantina secepatnya. Karena ibu Anggun tidak percaya ibu Anggun menyuruh asistennya untuk membuntuti mereka.
Anggun:”Eli tolong ikutin mereka ya, bener gak si Ruben pulang kerumahnya. Setelah kamu tau dia kemana nanti kabarin saya ya”
Eli:”Oke bu”
*Eli mengikuti Ruben dan Ursula, namun ternyata pemberhentian mereka bukanlah di rumah Ruben namun mereka berhenti di Rental PS. Seketika Eli langsung bergegas menelfon ibu Anggun.
Eli:”Assalamualaikum bu, saya udah ikutin mereka ternyata mereka berhenti di Rental PS, si Ruben masuk Rental dengan temannya dan si Ursula kemudian pergi bu.”
Anggun:”Bener kan dugaan saya, yasudah makasi Eli kamu kembali kesini saya mau menelfon mama Ruben”
*Ibu Anggun segera menelfon mama Ruben untuk meminta izin bahwa Ruben akan diberikan Terapi Aversi dengan memberikan setruman listrik di Stick PlayStationnya agar Ruben takut dan benar-benar berhenti bermain game karena terapi Disentisisasi Sistematis yang dijalani Ruben saat ini gagal.
Anggun:”halo selamat siang ibu, saya Anggun nih bu. Mau ngabarin kalo anak ibu tadi sudah mencoba bohongin saya.”
Mama ruben:”lho kenapa bu. Kok bisa?”
Anggun:”jadi tadi adiknya ruben, ursulla tadi kesini, dia minta ijin saya untuk bawa ruben pulang karena ibu sedang sakit dan dia sedang tidak bisa menjaga ibu karena harus ke bandung. Sebenarnya saya sudah paham dengan itu, makanya saya menyuruh asisten saya untuk mengikuti kemana ruben pergi dan benar saja dia pergi ke rental PS. Jadi, oleh karena itu masa untuk menterapi anak ibu akan diperpanjang. Dan seperti metode yang saya terapkan ke ruben kurang efektif. Jadi saya akan beralih ke metode lain, yaitu terapi aversi. Jadi ruben akan saya berikan suatu stimulus yang akan membuat dia takut akan hal itu. Gimana bu apakah ibu setuju?”
Mama ruben:”wah wah tu anak yaaa bisa-bisanya. Si ursulla juga sama lagi mau aja disuruh kakaknya. Yauda bu lakuin aja apa yang menurut ibu baik. Saya setuju.”
Day 6
(Terapi Aversi)
*Esok harinya
Ruben: “Dok, saya hari ini sudah mengerjakan revisi skripsi saya, dan konsul melalui telefon dengan DP saya, saya mau main ya”
Anggun: “Memangnya kurang semalam kamu begadang main ? Itu sudah saya kasih waktu lebih kan untuk main”
Ruben: “Yah nanggung dok, hari ini saya ada pertandingan nih lawan tim temen saya. Saya gaenak sama tim saya kalau saya gak main lagi. Pliss ya dok saya mau main lagi, 2 jam aja.”
Anggun: “Yaudah kamu coba ke Bu Elizabeth, kamu minta stick PS kamu ke dia ya. Kemarin stick kamu di pinjem sama anaknya yang main kesini.”
Ruben: “Oalah, gaul juga anaknya. Okedehbu terimakasih”
*Ruben mengambil joystick ke Ibu Eli yang sebenarnya itu adalah stick yang telah diberi efek strum berkekuatan cukup tinggi saat dicolokkan ke console playstation nya
Ruben: “Permisi Bu Eli, bu saya mau ambil stick saya dong katanya Ibu Anggun ada di ibu”
Eli: “Ohiya ini ben. Kamu mainnya di deket ruang UKS ya, udah di siapin PS nya. Bekas anak saya main disana tadi pagi”
Ruben: “Oh okedeh bu gapapa.”
*Saat Ruben ingin memainkan PS nya, tiba-tiba ketika ia menyolokkan stick lalu ia tersetrum dengan tegangan yang sangat kuat. Ruben terpental dan lari ketakutan menuju ruang Bu Anggun”
Ruben: “Bu, saya kesetrum bu. Sakit bu, badan saya bergetar mulu bu”
Bu Anggun: “Iya ? Yaudah ayo ben ke UKS. Takutnya kamu kenapa-kenapa (menakuti Ruben)”
Ruben: “Ayo bu cepet bu ! Gaenak banget bu aaaaaa….. Saya gamau main lagi bu, takut bu….(sambil menjerit)”
Bu Anggun: “Yaudah kamu gausah mikirin main lagi, yang penting kamu sehat dulu. Bahaya ini takutnya otak kamu kena strum juga dan bisa menimbulkan kerusakan.”

*Bu Anggun membawa Ruben ke UKS. Setelah kejadian itu, Ruben menghindari stick PS, sekaligus hampir tidak mau lagi membicarakan seputar game. Ruben takut kalau akan merasakan strum sebesar itu lagi, sehingga ia menjauhkan diri dari stick PS.
*Setelah Ruben mengurungkan kebiasaannya yang aktif bermain game, Ruben dipersilahkan pulang oleh Dokter Anggun. Ruben yang selama terapi disentisisasi sistematis sering melakukan kegiatan produktifpun, terbawa sampai ia pulang dan ia lebih gemar mengerjakan tugas-tugas nya dan mampu focus mengejar wisuda nya.

Sabtu, 04 Juni 2016

PSIKOTERAPI



RATIONAL EMOTIVE THERAPY



1.      Konsep Dasar RET


Tokoh utama dalam Rasional Emotive Therapy atau RET adalah Albert Ellis. RET didasarkan atas filosofi bahwa “apa yang mengganggu jiwa manusia bukanlah peristiwa-peristiwa, tetapi bagaimana manusia itu mereaksi atau berprasangka terhadap peristiwa-peristiwa tersebut”. RET tidak memusatkan perhatian atas peristiwa-peristiwa masa lalu, tetapi lebih kepada peristiwa yang terjadi saat ini dan bagaimana reaksi terhadap peristiwa tersebut. RET juga percaya bahwa setiap manusia mempunyai pilihan, mampu mengontrol ide-idenya, sikap, perasaan dan tindakan-tindakannya serta mampu menyusun kehidupannya menurut kehendak atau pilihannya sendiri. RET didasari asumsi bahwa manusia itu dilahirkan dengan potensi rasional dan juga irrasional. Seseorang berperilaku tertentu karena ia percaya harus bertindak dalam cara itu. Sedangkan gangguan emosional terletak pada keyakinan irasional. Dengan kata lain keyakinan irasional lah yang menyebabkan gangguam emosional.


1.      Tujuan Terapi RET

Tujuan dilaksanakannya konseling RET adalah mengajarkan klien untuk berpikir dan secara personal lebih puas dalam cara-cara merealisasikan pilihan-pilihan antara kebencian diri dan perilaku negatif, meningkatkan perilaku yang positif dan efisien.


1.      Teknik Terapi RET

a.        Teknik- teknik Kognitif
Teknik-teknik kognitif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berpikir klien. Teknik-teknik ini meliputi:
1)        Pengajaran              : Menunjukkan betapa tidak logisnya cara berpikir klien sehingga menimbulkan gangguan emosi dan mengajarkan cara-cara berpikir yang lebih positif dan rasional.
2)        Persuasif                  : Melalui berbagai argumentasi, konselor meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya yang keliru.
3)        Konfrontasi             : Menyerang ketidakrasionalan berpikir klien dan membawanya ke arah berpikir yang lebih rasional.
4)        Pemberian Tugas  : Memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi yang nyata.
 


b.              Teknik-teknik Emotif
Teknik-teknik emotif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah emosi klien. Dalam teknik ini, konselor harus mampu menerima klien tanpa syarat. Termasuk teknik ini diantaranya adalah sosiodrama, role playing, modeling ataupun self modeling, latihan asertif (mendorong keberanian dan kebiasaan klien dengan pola perilaku tertentu yang diinginkannya), humor serta latihan melawan rasa malu.

c.             Teknik-teknik Perilaku
Teknik ini digunakan untuk mengubah tingkah laku klien yang tidak diinginkan. Termasuk teknik ini adalah melalui penerapan prinsip penguatan (reinforcement). Teknik permodelan sosial (social modeling), serta relaksasi.






TERAPI PERILAKU (BEHAVIORAL THERAPY)


1. Konsep Dasar Terapi Perilaku (Behavioral Therapy)

Pada dasarnya menusia bersifat mekanistik dan hidup dalam alam yang deterministik dengan sedikit peran aktifnya untuk martabatnya. Perilaku manusia adalah hasil respon terhadap lingkungan dengan kontrol yang berbatas dan melalui interaksi ini kemudian berkembang pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Perilaku manusia merupakan hasil dari proses belajar, sehingga dapat dirubah dengan memanipulasi kondisi-kondisi belajar. Dengan demikian, teori konseling behavioral hakekatnya merupakan aplikasi prinsip-prinsip dan teknik belajar secara sistematis dalam usaha menyembuhkan gangguan tingkah laku. Asumsinya bahwa gangguan perilaku atau tingkah laku itu diperoleh, melalui hasil belajar yang keliru dan karenanya harus diubah melalui proses belajar, sehingga dapat lebih sesuai.

2. Tujuan Terapi Perilaku  

a.   Menghapus pola-pola perilaku maladaptif anak lebih membantu mereka mempelajari pola-pola tingkah laku yang lebih konstruktif. 
b.   Mengubah tingkah laku maladaptif anak 
c.   Menciptkan kondisi-kondisi yang baru yang memungkinkan terjadinya proses belajar ulang.  

3. Metode Terapi Perilaku 
a.   Operant Learning   
Dalam metode ini yang penting adalah penguatan yang dapat menghasilkan perilaku yang diharapkan, serta pemanfaatan situasi diluar klien yang dapat memperkuat perilaku klien yang dikehendaki. Penguatan hendaknya sesuai kebutuhan anak dan diberikan sistematis dan untuk itu konselor harus mengetahui kapan dan bagaimana penguatan itu diberikan dan merancang perilaku yang memerlukan penguatan. 
b.   Unitative Learning atau Social Modeling
Dalam metode ini yang penting adalah perlunya konselor merancang perilaku adaptif yang dijadikan model bagi klien, baik dalam bentuk rekaman, pengajaran berprogram, video, film, biografi atau orang. Model yang dipilih hendaknya subjek yang berprestise, kompeten, aktraktif (menarik), dan berpengaruh.
     c.   Cognitive Learning 
       Metode ini lebih banyak menekankan pentingnya aspek perubahan kognitif klien. Dapat pelaksanaannya dapat dilakukan melalui pengajaran secar verbal, kontrak antara konselor dengan klien dan bermain peran.
a.       Emotional Learning
Metode ini diterapkan untuk individu yang mengalami kecemasan, melalui penciptaan situasi rileks dengan menghadirkan rangsang untuk menimbulkan kecemasan bersama dengan suatu rangsang yang menimbulkan kesenangan, sehingga secara berangsur kecemasan tersebut berkurang dan akhirnya dapat hilang.
Sedangkan teknik yang digunakn dalam pendekatan atau metode diatas antara lain:
1)      Desentisisasi Sistematis
Suatu cara yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperbuat secara negatif dengan menyertakan pemunculan tingkah laku yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapusnya.
2)      Latihan Asertif
Latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang menimbulkan kecemasan, dengan cara mempertahankan hak dan harga dirinya.
3)      Terapi Aversi
Digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk atau menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku positif.
4)      Penghentian Pikiran
Teknik ini efektif digunakan untuk klien yang sangat cemas. Caranya, misal klien ditutup matanya sambil membayangkan dan mengatakan sesuatu yang mengganggu dirinya, misal berkata “saya jahat” – pada saat itu klien diberi tanda, kemudian terapi berteriak dengan keras dan nyaring berkata “berhenti”. Jadi, pikiran yang tadi digantiakan dengan teriakan terapi, berulang-ulang sampai dirinya sendiri yang bisa menghentikannya.
5)      Kontrol Diri
Dilakukan untuk meningkatkan perhatian pada anak tentang tugas-tugas tertentu. Melalui prosedur self assesment mencatat diri sendiri, menentukan tindakan diri sendiri dan menyusun dorongan diri sendiri.
6)      Pekerjaan Rumah
Dengan memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada klien yang kurang mampu menyesuaikan diri dengan situasi tertentu.



GROUP THERAPY
 
1.    Konsep Dasar

Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi pasien dengan gangguan interpersonal (Yosep dalam Sitohang, 2011). 

2.    Tujuan Terapi Kelompok  
Terapi Kelompok adalah bentuk terapi yang melibatkan satu kelompok dari pertemuan yang telah direncanakan oleh seorang terapis yang ahli untuk memfokuskan pada satu atau lebih dalam hal: 
a. Kesadaran dan pengertian diri sendiri. 
b. Memperbaiki hubungan interpersonal. 
c. Perubahan tingkah laku.  

3.    Teknik-Teknik Terapi Kelompok  

            a.     Psikodrama (role playing)
     Dibuat oleh Jacob Moreno pada tahun 1920 yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada klien untuk katarsis, berperilaku spontan, dan saling memahami antar-anggota. Pada teknik ini ada tahap dimana klien memperagakan peristiwa hidupnya yang siginifikan dihadapan anggota lainnya Ada juga tahap dimana anggota berperan menjadi klien dan klien menjadi individu yang berpengaruh dalam hidupnya dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran klien. Menurut Moreno, bermain peran lebih efektif untuk katarsis dan membebaskan klien untuk berkreasi.
                        b.  Analisis Transaksional
Dikemukakan oleh Eric Berne pada tahun 1950. Menurut Berne, fokus pada pemahaman klien daripada pelepasan emosi, untuk memperoleh insight mengenai kesalahan transaksi yang terjadi. Diawali dengan kontrak ("Saya ingin berhenti merasa depresi") untuk membuat rencana terapi dan evaluasinya (mencari status ego, tipe transaksi/games, naskah hidup)
                        c.  Terapi Perilaku Berkelompok
Pada teknik ini biasanya beberapa orang dengan masalah perilaku yang sama dapat diterapi secara bersama-sama. Terdapat tiga jenis terapi perilaku berkelompok: 1) Systematic Desentizitation (terdiri dari klien-klien dengan phobia yang sama, bersama-sama belajar relaksasi). 2) Assertion Training Groups (anggota bermain peran melakukan perilaku asertif terhadap anggota lain, lalu yang lan memberi komentar). 3) Kontrol yang ditujukan terhadap perilaku tertentu (seperti makan berlebihan). 
d.  T-Groups/Sensitivity Training Group
      Pada teknik ini ditujukan untuk individu normal. Kelompok pada teknik ini terdiri dari 10-15 individu. Bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri; meningkatkan kepekaan perasaan, pikiran, dan tujuan terhadap orang lain; melatih kejujuran dan jadi diri sendiri; belajar memberi dan menerima umpan balik; menyelesaikan konflik interpersonal. Hanya ada trainer yang membantu menentukan tujuan dan arah kelompok serta membantu anggota belajar dari pengalaman 
                   e.  Encounter Groups
     Untuk mengatasi keterasingan terhadap lingkungan, perasaan bahagia, merasa diri 'penuh', bertanggung jawab, punya hubungan dekat dengan orang lain, lebih jadi diri sendiri, dapat mencapai dan berbagi dengan orang lain adalah esensi sebagai manusia. Encounter group memfasilitasi individu untuk menjadi spontan dan merasakan keintiman bersama. Terapis tidak ikut campur dalam proses terapi. Pada awalnya anggota akan kebingungan, tapi lama kelamaan akan terjadi interaksi sehingga spontanitas dan keintiman dapat tercapai.
 

REFERENSI:

Sihotang, L. (2011). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Kemampuan Mengontrol. Medan: USU.

Sunardi, P & Assjari, M. 2008. Teori konseling. Bandung: PLB FIP UPI

Yalom, I.D.(1975).The Theory and Practice of Group Psychotherapy. New York: Basic Books