TERAPI HUMANISTIK
EKSISTENSIALIS
1. Konsep
dasar pandangan humanistik eksistensial tentang perilaku/ kepribadian
Jawab:
Pandangan
humanistik eksistensial adalah suatu pandangan yang agak baru untuk memahami
tingkah laku abnormal dan dalam banyak hal dikembangkan sebagai reaksi melawan
pandangan-pandangan lain. Pandangan humanistik eksistensial kadang-kadang
disebut sebagai “mazhab ketiga” untuk membedakan dari segi pandangan
psikodinamik dan pandangan behavioral yang dominan ketika pandangan humanistik
eksistensial dikembangkan. Pandangan humanistic eksistensial kadang-kadang
disebut pandangan fenomenologis. Feneomenologis adalah pendekatan filosofis
yang bertolak belakang dari gagasan bahwa pengetahuan diperoleh melalui
pengalaman dan bukan melalui pikiran dan intuisi.
Terapi
Eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Terapi-terapi
humanistik-eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar.
Terapi humanistik-eksistensial juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang
dialami pasien pada masa-masa sekarang – “disini dan kini” – dan bukan pada
masa lampau.
2. Unsur-Unsur Terapi
Jawab:
Dalam pandangan eksistensial-humanistik, penderita
yang neurotic adalah orang yang kehilangan perasaan berada dan kehilangan
perasaan berada ini menimbulkan depresi. Terapi humanistik eksistensial
memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar. Terapi humanistik juga
lebih memusatkan pada apa yang dialami pasien pada masa sekarang bukan pada
masa lalu. Tugas utama terapis adalah membantu penderita agar ia menyadari
keberadaannya di dunia ini.
Tujuan terapi adalah membantu penderita supaya ia
memperolehatau menemukan kemanusiannya yang hilang. Dengan kata lain, terapis
eksistensial-humanistik membantu memperluas kesadaran diri penderita dan
karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan
bertanggung jawab terhadap arah hidupnya sendiri. Oleh karena itu, terapis
humanistic-eksistensial membantu penderita agar mampu menghadapi kecemasan
sehubungan dengan tindakan-tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa
dirinya lebih dari sekadar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar
dirinya.
3, Teknik-Teknik Terapi
Jawab:
Teori eksistensial humanistik
tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur
terapi bisa dipungut dari beberapa teori terapi lainnya separti teori Gestalt
dan Analisis Transaksional. Tugas terapis di sini adalah menyadarkan klien
bahwa klien masih ada di dunia ini dan hidupnya dapat bermakna apabila klien
memaknainya. Adapun empat teknik dalam terapi ini :
a. Klien
didorong agar bersemangat untuk lebih dalam memberikan klien pemahaman baru dan
restrukturisasi nilai dan sikap klien untuk mencapai kehidupan yang lebih
baik dan dianggap pantas.
b. Klien
dibantu dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap
dunia.
c. Klien
diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi diri diterima.
d. Klien
diajak untuk berfokus untuk bisa melaksanakan apa yang telah pelajari tentang
diri sendiri, kemudian klien didorong untuk mengaplikasian barunya
dengan jalan yang konkrit, klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk
menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan.
PERSON CENTERED
THERAPY (ROGERS)
1.
Konsep dasar pandangan
Carl Rogers tentang perilaku/ kepribadian
Jawab:
Carl Rogers adalah psikolog
humanistik kebangsaan Amerika yang berfokus pada hubungan tarapeutik dan
mengembangkan metode baru terapi berpusat pada klien. Rogers adalah salah satu
individu yang pertama kali menggunakan istilah klien bukan pasien. Terapi
berpusat pada klien berfkous pada peran klien, bukan ahli terapi, sebagai
proses kunci penyembuhan. Berbagai istilah dan konsep yang muncul dalam
penyajian teori Rogers mengenai kepribadian dan perilaku yang sering memiliki
arti yang unik dan khas dalam orientasi sebagai berikut :
a. Pengalaman
Pengalaman mengacu pada dunia
pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait akan kesadaran.
Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita seperti yang kita
tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam kesadaran, seperti ide,
“Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran masyarakat yang sebenarnya dari
total lapangan pengalaman mereka mungkin terbatas, setiap individu adalah satu
– satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
b. Realitas
Untuk tujuan psikologis,
realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi individu, meskipun
untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang – orang yang memiliki persepsi
tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang akan setuju pada
kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat dirinya sebagai
seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan kenyataan orang
menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa politisi
menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi hati dari
rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam terapi,
di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
c. Organisme
Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang mungkin lapar, tetapi
karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut akan melewatkan makan
siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih jelas tentang apa yang
lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku di arahkan dalam tujuan
untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat memutuskan untuk tidak
mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia memutuskan bahwa kehidupan
keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri sebagai pejabat.
d. Organisme
mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Ini adalah prinsip utama dalam
tulisan – tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart Mowrer, Harry Stack Sullivan,
Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya beberapa. Perjuangan untuk
mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah contoh. Ini adalah keyakinan
Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang lain. Di beri
pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan eksternal. Individu lebih memilih untuk
menjadi sehat daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada bergantung.
Dan secara umum untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme total.
e. Frame
Internal Referensi
Ini adalah bidang persepsi
individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna yang melekat pada
pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang memiliki pusat pandangan.
Kerangka acuan internal memberikan pemahamana sepenuhnya tentang mengapa orang
berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal ini harus di bedakan dari penilaian
eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
f. Konsep
Diri
Istilah – istilah mengacu pada
gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari persepsi karakteristik
“I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang
lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai – nilai yang melekat
pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan proses
perubahan.
g. Symbolization
Ini adalah proses di mana
individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak simbolisasi untuk
pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang – orang menganggap
dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan berbohong. Pengalaman
ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten dengan konsep diri.
Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan khalayak diam sebagai
terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan sebuah kelompok yang penuh
perhatian dan tertarik.
h. Penyesuaian
Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal ini mengacu pada
konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman individu sensorik
dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur – unsur kelemahan dan
ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman kegagalan. Kebutuhan
untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak ada dan karena itu
menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
i.
Organismic Valuing Process
Ini adalah proses yang
berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti indra mereka sendiri
untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan sistem fixed menilai
intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga dengan apa
yang seharusnya benar / salah. Proses menilai organismic konsisten dengan
hipotesis.
j.
The Fully Functioning Person
Rogers mendefinisikan mereka
yang bergantung pada Organismic valuing process seperti Fully functioning
person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan, memungkinkan
kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui pengalaman mereka.
2. Unsur-Unsur Terapi
Jawab:
Peran Terapis
Menurut Rogers, peran
terapis bersifat holistik menekankan pada cara mereka berada dan sikap – sikap
mereka, tidak pada teknik – teknik yang di rancang agar klien melakukan
sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap – sikap terapislah yang
memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik –
teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai
instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu
klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari
bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan
klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai.
Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin
di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.
Tujuan Terapi
Rogers berpendapat
bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan – tujuan atau nilai – nilai yang di
milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah
nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya
terapi. Terapis memantulkan perasaan – perasaan yang di ungkapkan oleh pasien
untuk membantunya berhubungan dengan perasaan – perasaanya yang lebih dalam dan
bagian – bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima oleh
masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata – kata pa
yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.
3. Teknik-Teknik Terapi
Jawab:
Untuk terapis person – centered,
kualitas hubungan terapis jauh lebih penting daripada teknik. Rogers, percaya
bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan sudah cukup terapi, yaitu :
a. Empathy
Empati adalah
kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan
pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama
dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang
ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor
yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang
membawa perubahan dan pembelajaran.
b. Positive
Regard (acceptance)
Positive
Regard yang di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang
mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena
keberadaannya.
c. Congruence
Congruence /
Kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak
memakai topeng atau pulasan – pulasan. Menurut Rogers perubahan kepribadian
yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.
LOGOTERAPI (FRANKL)
1.
Konsep dasar pandangan
Frankl tentang perilaku/ kepribadian
Jawab:
Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis menekankan pentingnya kemauan
akan arti. Tentu saja ini merupakan kerangka, di dalamnya segala sesuatu
yang lain diatur. Frankl berpendapat bahwa manusia harus dapat menemukan makna
hidupnya sendiri dan kemudian setelah menemukan mencoba untuk memenuhinya. Bagi
Frankl setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas
yang harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori
Frankl yang dinamakan Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar,
yakni kebebasan berkeinginan, keinginan akan makna, dan makna hidup.
Konsep kebebasan berkeinginan (freedom of will), mengacu pada kebebasan
manusia untuk menentukan sikap (freedom to take a stand) terhadap
kondisi-kondisi biologis, psikologi, dan sosiokultural. Kualitas ini adalah
khas insani yang bukan saja merupakan kemampuan untuk mengambil jarak (to
detach) terhadap berbagai kondisi lingkungan, melainkan juga kondisi diri
sendiri ( self-detachment ). Dalam pandangan Logoterapi kebebasan disini
adalah kebebasan yang bertanggung jawab agar tidak berkembang menjadi
kesewenangan.
Konsep keinginan akan
makna (the will to
meaning) inilah menjadi motivasi utama kepribadian manusia (Frankl, 1977).
Sebutan the will to meaning sengaja dibedakan Frankl dengan sebutan the
drive to meaning karena makna dan nilai-nilai hidup tidak mendorong (to
push, to drive) tetapi seakan-akan menarik (to pull) dan
menawari (to offer) manusia untuk memenuhi kenyataan hidup, yang
menurutnya pula tidaklah menyediakan keseimbangan tanpa tegangan, tetapi justru
menawarkan suatu tegangan khusus, yaitu tegangan kenyataan diri pada waktu
sekarang dan makna-makna yang harus dipenuhi : Bring us Meaning. Di
antara kedua hal itulah proses pengembangan pribadi berlangsung.
Konsep makna hidup, yaitu hal-hal yang memberikan arti khusus bagi seseorang yang apabila
berhasil dipenuhi, akan menyebabkan kehidupannya dirasakan berarti dan
berharga, sehingga akan menimbulkan penghayatan bahagia (happines).
Makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapa pun, tetapi harus dicari dan
ditemukan sendiri. Orang lain hanya dapat menunjukkan hal-hal yag potensial
bermakna, akan tetapi kembali pada orang itu sendiri untuk menentukan apa yang
ditanggapinya.
2. Unsur-Unsur Terapi
Jawab:
Munculnya
Gangguan
a. Neurosis
somatogenik, yaitu gangguan perasaan yang berkaitan dengan ragawi
b. Neurosis
psikogenik, yaitu gangguan perasaan yang berasal dari hambatan-hambatan
psikis
c. Neurosis
noogenik, yaitu gangguan neurosis yang disebabkan tidak terpenuhinya hasrat
untuk hidup bermakna
Tujuan
Terapi
Tujuan utama
logoterapi adalah meraih hidup bermakna dan mampu mengatasi secara efektif
berbagai kendala dan hambatan pribadi. Hal ini diperoleh dengan jalan menyadari
dan memahami serta merealisasikan berbagai potensi sumber daya kerohanian yang
dimiliki setiap orang yang sejauh ini mungkin terhambat dan terabaikan.
Selain itu,
logoterapi juga bertujuan untuk menolong pasien menemukan tujuan dan maksud
dalam hidupnya dengan memperlihatkan bernilainya tanggung jawab dan tugas-tugas
tertentu.
Peran
Terapis
a. Terapis
harus menunjukkan kepada klien bahwa setiap manusia mempunyai tujuan yang unik
yang dapat tercapai dengan suatu cara tertentu.
b. Terapis
berusaha membuat klien menyadari secara penuh tanggung jawab dirinya dan
memberinya kesempatan untuk memilih, untuk apa, kepada apa, atau kepada siapa
dia harus bertanggung jawab.
c. Terapis
tidak tergoda untuk menghakimi klien-kliennya, karena dia tidak pernah
membiarkan seorang klien melemparkan tanggung jawab kepada terapis untuk
menghakiminya.
3. Teknik-Teknik Terapi
Jawab:
a.
Teknik Intensi Paradoksikal (Perlawanan Terhadap Niat)
Teknik ini
didasarkan pada dua fakta, yaitu (1) rasa takut bisa menyebabkan terjadinya hal
yang ditakutkan (2) keinginan yang berlebihan bisa membuat keingginan tersebut
tidak terlaksana.
Dalam
kasus-kasus fobia, teknik ini berusaha mengubah sikap penderita yang
semula serba takut menjadi akrab dengan objek yang justru ditakutinya.
Sedangkan pada kasus-kasus obsesi dan kompulsi, yang biasanya penderita menahan
dan mengendalikan secara ketat dorongan-dorongan agar tidak muncul, penderita
justru diminta untuk secara sengaja mengharapkan agar dorongan-dorongan itu
benar-benar mencetus.
Intensi
paradoksikal juga dapat diterapkan kepada penderita insomnia. Rasa takut tidak
bisa tidur memicu keinginan berlebihan untuk tidur, yang malah membuat pasien
malah tidak bisa tidur. Untuk mengatasi ketakutan ini, biasanya Frankl
menganjurkan si pasien untuk mencoba tidak tidur, tetapi melakukan yang
sebaliknya, artinya berusaha sebisa mungkin untuk tetap bangun. Dengan kata
lain, keinginan yang sangat besar untuk tidur yang muncul akibat rasa cemas
yang diantisipasi bahwa dia tidak bisa tidur, harus diganti dengan keinginan
sebaliknya untuk tidak tidur, akibatnya si pasien akan segera tertidur. Selain
itu, teknik ini mempunyai keterbatasan yang perlu diperhatikan, yakni mempunyai
kontra indikasi dengan depresi, terutama kasus depresi dengan kecenderungan
bunuh diri. Maksudnya, bila teknik ini diterapkan pada kasus depresi dengan
keinginan bunuh diri, maka kemungkinan besar justru akan mendorong penderita
untuk benar-benar melakukan tindakan bunuh diri. Oleh karena itu, jangan
sekali-kali menerapkan teknik ini untuk kasus depresi.
b.
Derefleksi
Seperti
halnya intensi paradoksikal, teknik derefleksi pun memanfaatkan kualitas-kualitas
insani dalam gangguan neurosis. Bedanya, jika intensi paradoksikal memanfaatkan
kemampuan mengambil jarak terhadap diri sendiri dan seakan-akan memandangnya
dari luar, maka derefleksi memanfaatkan kemampuan transedensi diri yang ada
dalam diri setiap orang.
Frankl
kemudian mengatakan bahwa refleksi berlebihan bisa diatasi dengan teknik
derefleksi. Sebab, jika intensi paradoksikal dirancang untuk mengatasi
kecemasan antisipatori, derefleksi dirancang untuk bisa mengatasi kompulsi
kepada observasi diri atau pemaksaan ke arah pengamatan diri sendiri. Dengan
demikian, jika intensi paradoksikal menggunakan pola right passivity,
derefleksi menggunakan pola right activity.
c.
Bimbingan Rohani
Bimbingan
rohani merupakan salah satu teknik logoterapi yang mula-mula banyak diterapkan
dalam dunia medis, khusunya untuk kasus-kasus somatogenik. Tetapi dalam
perkembangan selanjutnya, prinsip-prinsip ini diamalkan juga oleh profesi lain
dalam kasus-kasus tragis non-medis yang tak dapat dihindari lagi. Pendekatan ini
memanfaatkan kemampuan insani untuk mengambil sikap terhadap keadaan diri
sendiri dan keadaan lingkungan yang tak mungkin diubah lagi.
Bimbingan
rohani kiranya dapat dilihat sebagai ciri paling menonjol dari logoterapi
sebagai psikoterapi berwawasan spiritual. Sebab, bimbingan rohani merupakan
metode yang secara eksklusif diarahkan pada unsur rohani atau roh, dengan
sasaran penemuan makna oleh individu atau klien melalui realisasi nilai-nilai
bersikap. Jelasnya, bimbingan rohani merupakan metode yang khusus digunakan
pada penangan kasus dimana individu dalam penderitaan karena penyakit yang
tidak bisa disembuhkan atau nasib buruk yang tidak mampu lagi untuk berbuat
selain menghadapi penderitaan itu.
Melalui
bimbingan rohani, individu yang menderita didorong ke arah merealisasi
nilai-nilai bersikap, menunjukkan sikap positif terhadap penderitaannya,
sehingga ia bisa menemukan makna dibalik penderitaannya.
d.
Existential Analysis
Teknik ini
sangat luas dan luwes, serta memberikan keleluasaan kepada para logoterapis
untuk secara kreatif mengembangkan sendiri metode dan teknik-tekniknya.
REFERENSI:
Bastaman,
H.D.(1996).Meraih Hidup Bermakna.Jakarta: Penerbit Paramadina
Corey,
Gerald.(2009). Teori dan Praktik
Konseling dan Psikoterapi. Bandung : Refika Adiatma
Corsini, R. (2000). CURRENT
PSYCHOTHERAPIES. Itasca , Illinois: F.E. PeacockPublishers.
Murad, J. (2006). Dasar – Dasar
Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia.
Semiun,
Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius.
Semiun,
Y. (2006). Kesehatan Mental 3.
Yogyakarta: KANISIUS
wardalisa.staff.gunadarma.ac.id/