TRAUMA KORBAN BENCANA ALAM
Gempa
yang disertai tsunami yang mengguncang Aceh, Indonesia pada tanggal 26 Desember
2004. Gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 SR yang terjadi selama 8 menit itu
menimbulkan gelombang besar yang membuat sedikitnya 115.000 orang tewas karena
bencana tersebut. Gempa dan Tsunami Aceh ini tak hanya dirasakan Indonesia
namun dibeberapa negara seperti Khao Lak di Thailand, sebagian negara Srilangka
dan India juga ikut merasakan dahsyatnya gempa yang disusul tsunami itu.
Korban selamat dari bencana tersebut
salah satunya adalah Teddy. Sabtu, 25 Desember 2004 satu hari sebelum
terjadinya gempa disertai tsunami melanda, Teddy bersama istri dan anaknya
pergi kerumah Ibu dari Teddy untuk berakhir pekan dan juga dikarenakan ada
suatu urusan yang mengharuskan Teddy tidak dapat kembali dihari yang sama.
Keesokan harinya, seperti biasa
Teddy berjualan di pasar ketika tragedi tersebut terjadi. Tak dapat ia sangka
bahwa ia adalah salah satu saksi dari kedahsyatan gempa dan tsunami yang
meluluhlantakan Bumi Serambi Mekah itu,
Teddy tidak ingat betul berapa lama
ia terombang-ambing, tergulung dan terseret oleh derasnya tsunami yang terjadi
pada hari itu. Ketika semuanya berakhir, Teddy mendapati dirinya dalam kondisi
yang mengenaskan. Pakaiannya penuh dengan lumpur, tubuhnya penuh luka di banyak
tempat terkena pecahan beling dan paku. Ia berjalan tertatih-tatih mencari
tempat untuk beristirahat karena kelelahan beberapa jam terombang-ambing di
air.
Dengan luka yang di deritanya Teddy
pergi mencari istri dan anaknya di rumah sang ibu, tapi tak juga ia temukan
istri, anak serta sang ibu semua rata dengan tanah tak bersisa. Tak
henti-hentinya ia menangis, menjerit seperti orang gila. Selama berhari-hari ia
luntang lantung dalam keadaan shock
berat. Sampai akhirnya bala bantuan datang dari sebuah LSM. Teddy dibaa ke camp pengungsiaan ia menghabiskan
hari-harinya seperti orang gila. Menangis dan menjerit serta meratap-ratap
adalah kebiasaan Teddy setelah tragedi tersebut.
Setelah berhari-hari ia tinggal di camp akhirnya ada seorang kerabat yang
menemuinya. Kerabatnya ini membawa Teddy ke Bali, tempat tinggal sang kerabat
dalam kondisi yang masih labil dan dihantui rasa trauma akibat tragedi kemarin.
Dalam perjalanan menuju Bali ia juga sering berteriak-teriak dan menangis dan
perilaku tersebut terus berlanjut hingga Teddy sampai di Bali. Untuk
menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan Teddy akhirnya dikurung di dalam
kamar tidak boleh keluar rumah.
Sampai akhirnya ia kondisi Teddy berangsur-angsur
mulai stabil namun ia jenuh dan meminta pada anak kerabatnya untuk membukaan
pintu untuknya awalnya sang anak menolak tapi akhirnya dibukakan juga pintu
tersebut karena melihat Teddy begitu bosan berada di dalam kamar. Dibukakanlah
pintu tersebut Teddy pamit ingin jalan-jalan. Teddy jalan tak tentu arah,
sampai akhirnya ia duduk disebuah batu besar di tepi pantai. Ia memandang laut
lepas dengan perasaan yang berkecamuk yang tidak bisa diungkapkan dengan
kata-kata. Teddy berada di Pantai Kuta yang sangat terkenal keindahannya namun
bagi dirinya tak ia temukan keindahan itu. Yang ia dapatkan saat memandang laut
tersebut adalah kekejaman yang merenggut ibu, adik, istri dan anaknya.
Rasa trauma Teddy kembali datang. Ia
menangis, meraung dan menjerit sehingga banyak orang yang mengerumuninya.
Banyak orang yang bersimpatik dan tergerak untuk mengulurkan tangannya. Dengan
sekuat tenaga ia berusaha untuk pulang. Dalam perjalanan pulang ia terpikir
bagaimana ia harus bertahan hidup yang tidak mungkin harus terus menerus
menumpang biaya pada kerabatnya.
Teddy
lantas berkenalan dengan seorang penjual koran disekitar Pantai Kuta, kepadanya
ia meminta ijin untuk ikut menjual koran, agar ia bisa mendapat uang sekedarnya
untuk makan. Teddy bersyukur, si penjual koran mau membantunya. Belakangan,
setelah sang penjual koran tau latar belakang Teddy lantas sang penjual koran
mengenalkan Teddy pada agen koran kenalan sang penjual agar bisa mengambil
koran secara langsung dan mendapat untung yang lebih banyak. Teddy akhirnya
berjualan koran dan menghadapi kerasnya hidup di daerah wisata tersebut sambil
terus menerus meredam traumanya saat melihat keganasan laut.
TEKNIK YANG DAPAT DITERAPKAN
REFERENSI:
Hall, C.S., Lindzey, G. (1993). Teori-teori psikodinamik (klinis). Yogyakarta: Kanisius.
http://www.fimadani.com/perjalanan-hidup-seorang-korban-tsunami-aceh/
Semiun, Y. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud. Yogyakarta: Kanisius.
Dari
cerita diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Teddy mengalami trauma akibat dari
bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh. Dari cerita itu pula maka apa yang
terjadi pada Teddy itu dapat diterapkan terapi psikoanalisis dengan teknik Asosiasi Bebas. Dimana metode teknik
tersebut dirancang agar dapat membebaskan klien untuk mengungkapkan segala apa
yang terlintas dibenaknya, termasuk mimpi-mimpi, segala fantasi yang dirasakan
dan hal-hal konflik dalam dirinya tanpa direncanakan terlebih dahulu,
dikomentari, disensor ataupun banyak dipotong. Asosiasi bebas merupakan suatu
metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan
emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu, yang
kemudian dikenal dengan katarsis. Asosiasi merupakan salah satu dari peralatan dasar
sebagai pembuka pintu keinginan, khayalan, konflik, serta motivasi yang tidak
disadari.
Dalam teknik ini Terapis dapat menggunakan metode hipnosis untuk
mendapatkan data-data dari klien mengenai hal-hal yang
dipikirkan dialam bawah sadar klien, dengan tehnik ini klien dapat mengutarakan
apapun yang dia rasakan tanpa ada yang disembunyikan sehingga psikoterapis
dapat menganalisis masalah apa yang sebenarnya terjadi pada klien. Penerapan
metode ini dilakukan dengan posisi klien berbaring diatas dipan/sofa sementara
terapis duduk dibelakangnya, sehingga
tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat
asosiasinya mengalir dengan bebas. Dalam hal ini terapis fokus bertugas
untuk mendengarkan, mencatat, menganalisis bahan yang direpres, memberitahu/membimbing
pasien memperoleh insight (dinamika yang mendasari perilaku yang tidak
disadari).
REFERENSI:
Hall, C.S., Lindzey, G. (1993). Teori-teori psikodinamik (klinis). Yogyakarta: Kanisius.
http://www.fimadani.com/perjalanan-hidup-seorang-korban-tsunami-aceh/
Semiun, Y. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud. Yogyakarta: Kanisius.