Jumat, 18 Maret 2016

KASUS DAN TEKNIK PSIKONALISIS


   TRAUMA KORBAN BENCANA ALAM         

            Gempa yang disertai tsunami yang mengguncang Aceh, Indonesia pada tanggal 26 Desember 2004. Gempa berkekuatan 9,1 sampai 9,3 SR yang terjadi selama 8 menit itu menimbulkan gelombang besar yang membuat sedikitnya 115.000 orang tewas karena bencana tersebut. Gempa dan Tsunami Aceh ini tak hanya dirasakan Indonesia namun dibeberapa negara seperti Khao Lak di Thailand, sebagian negara Srilangka dan India juga ikut merasakan dahsyatnya gempa yang disusul tsunami itu.
            Korban selamat dari bencana tersebut salah satunya adalah Teddy. Sabtu, 25 Desember 2004 satu hari sebelum terjadinya gempa disertai tsunami melanda, Teddy bersama istri dan anaknya pergi kerumah Ibu dari Teddy untuk berakhir pekan dan juga dikarenakan ada suatu urusan yang mengharuskan Teddy tidak dapat kembali dihari yang sama.
            Keesokan harinya, seperti biasa Teddy berjualan di pasar ketika tragedi tersebut terjadi. Tak dapat ia sangka bahwa ia adalah salah satu saksi dari kedahsyatan gempa dan tsunami yang meluluhlantakan Bumi Serambi Mekah itu,
            Teddy tidak ingat betul berapa lama ia terombang-ambing, tergulung dan terseret oleh derasnya tsunami yang terjadi pada hari itu. Ketika semuanya berakhir, Teddy mendapati dirinya dalam kondisi yang mengenaskan. Pakaiannya penuh dengan lumpur, tubuhnya penuh luka di banyak tempat terkena pecahan beling dan paku. Ia berjalan tertatih-tatih mencari tempat untuk beristirahat karena kelelahan beberapa jam terombang-ambing di air.
            Dengan luka yang di deritanya Teddy pergi mencari istri dan anaknya di rumah sang ibu, tapi tak juga ia temukan istri, anak serta sang ibu semua rata dengan tanah tak bersisa. Tak henti-hentinya ia menangis, menjerit seperti orang gila. Selama berhari-hari ia luntang lantung dalam keadaan shock berat. Sampai akhirnya bala bantuan datang dari sebuah LSM. Teddy dibaa ke camp pengungsiaan ia menghabiskan hari-harinya seperti orang gila. Menangis dan menjerit serta meratap-ratap adalah kebiasaan Teddy setelah tragedi tersebut.
            Setelah berhari-hari ia tinggal di camp akhirnya ada seorang kerabat yang menemuinya. Kerabatnya ini membawa Teddy ke Bali, tempat tinggal sang kerabat dalam kondisi yang masih labil dan dihantui rasa trauma akibat tragedi kemarin. Dalam perjalanan menuju Bali ia juga sering berteriak-teriak dan menangis dan perilaku tersebut terus berlanjut hingga Teddy sampai di Bali. Untuk menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan Teddy akhirnya dikurung di dalam kamar tidak boleh keluar rumah.
            Sampai akhirnya ia kondisi Teddy berangsur-angsur mulai stabil namun ia jenuh dan meminta pada anak kerabatnya untuk membukaan pintu untuknya awalnya sang anak menolak tapi akhirnya dibukakan juga pintu tersebut karena melihat Teddy begitu bosan berada di dalam kamar. Dibukakanlah pintu tersebut Teddy pamit ingin jalan-jalan. Teddy jalan tak tentu arah, sampai akhirnya ia duduk disebuah batu besar di tepi pantai. Ia memandang laut lepas dengan perasaan yang berkecamuk yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Teddy berada di Pantai Kuta yang sangat terkenal keindahannya namun bagi dirinya tak ia temukan keindahan itu. Yang ia dapatkan saat memandang laut tersebut adalah kekejaman yang merenggut ibu, adik, istri dan anaknya.
            Rasa trauma Teddy kembali datang. Ia menangis, meraung dan menjerit sehingga banyak orang yang mengerumuninya. Banyak orang yang bersimpatik dan tergerak untuk mengulurkan tangannya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk pulang. Dalam perjalanan pulang ia terpikir bagaimana ia harus bertahan hidup yang tidak mungkin harus terus menerus menumpang biaya pada kerabatnya.
Teddy lantas berkenalan dengan seorang penjual koran disekitar Pantai Kuta, kepadanya ia meminta ijin untuk ikut menjual koran, agar ia bisa mendapat uang sekedarnya untuk makan. Teddy bersyukur, si penjual koran mau membantunya. Belakangan, setelah sang penjual koran tau latar belakang Teddy lantas sang penjual koran mengenalkan Teddy pada agen koran kenalan sang penjual agar bisa mengambil koran secara langsung dan mendapat untung yang lebih banyak. Teddy akhirnya berjualan koran dan menghadapi kerasnya hidup di daerah wisata tersebut sambil terus menerus meredam traumanya saat melihat keganasan laut.

TEKNIK YANG DAPAT DITERAPKAN


Dari cerita diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Teddy mengalami trauma akibat dari bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh. Dari cerita itu pula maka apa yang terjadi pada Teddy itu dapat diterapkan terapi psikoanalisis dengan teknik Asosiasi Bebas. Dimana metode teknik tersebut dirancang agar dapat membebaskan klien untuk mengungkapkan segala apa yang terlintas dibenaknya, termasuk mimpi-mimpi, segala fantasi yang dirasakan dan hal-hal konflik dalam dirinya tanpa direncanakan terlebih dahulu, dikomentari, disensor ataupun banyak dipotong. Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Asosiasi merupakan salah satu dari peralatan dasar sebagai pembuka pintu keinginan, khayalan, konflik, serta motivasi yang tidak disadari.

Dalam teknik ini Terapis dapat menggunakan metode hipnosis untuk mendapatkan data-data dari klien mengenai hal-hal yang dipikirkan dialam bawah sadar klien, dengan tehnik ini klien dapat mengutarakan apapun yang dia rasakan tanpa ada yang disembunyikan sehingga psikoterapis dapat menganalisis masalah apa yang sebenarnya terjadi pada klien. Penerapan metode ini dilakukan dengan posisi klien berbaring diatas dipan/sofa sementara terapis duduk dibelakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat asosiasinya mengalir dengan bebas. Dalam hal ini terapis fokus bertugas untuk mendengarkan, mencatat, menganalisis bahan yang direpres, memberitahu/membimbing pasien memperoleh insight (dinamika yang mendasari perilaku yang tidak disadari).
  
 REFERENSI:
Hall, C.S., Lindzey, G. (1993). Teori-teori psikodinamik (klinis). Yogyakarta: Kanisius.
http://www.fimadani.com/perjalanan-hidup-seorang-korban-tsunami-aceh/
Semiun, Y. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud. Yogyakarta: Kanisius.