Kamis, 27 Maret 2014

PANGERAN PANDE GELANG DAN PUTRI CADASARI



            Pada suatu masa di daerah Banten hidup seorang putri raja yang cantik jelita dan  baik hatinya bernama Putri Arum. Banyak yang menginginkannya menjadi permaisuri, dari banyaknya pangeran yang mengidam-idamkan sang Putri ada dua orang Pangeran yang ingin menjalin kasih dengan sang Putri. Kedua Pangeran itu ialah Pangeran Sae Bagus Lana dan Pangeran Cuhinin, keduanya amat sangat berbeda sikap dan perilakunya. Pangeran Sae Bagus Lana sesuai dengan arti namanya yaitu laki-laki yang baik hati, sedangkan Pangeran Cuhinin yang berarti laki-laki yang suka menggoda wanita. Melihat dari kedua karakter pangeran Putri Arum memilih Pangerang Sae Bagus Lana sebagai kekasih hatinya.
            Mengetahui Putri Arum lebih memilih Pangeran Sae Bagus Lana, Pangeran Cunihin iri dan dendam kepada Pangeran Sae Bagus Lana dan berniat untuk mencuri ilmu serta kesaktian Pangeran Sae Bagus Lana lalu merebut Putri Arum dari tangannya. Niat jahat Pangeran Cunihin berhasil. Dengan kesaktiannya itu, ia ubah wajah Pangeran Sae Bagus Lana menjadi seorang yang tua dengan kulit hitam legam.
            Sementara itu Pangeran Sae Bagus Lana yang sudah tidak berdaya mendatangi gurunya untuk meminta saran. Lalu ia pun diberi saran agar membuat sebuah gelang yang besar dan dapat dilewati oleh seorang manusia. Dengan gelang tersebut akan mengalahkan Pangeran Cunihin, seluruh kesaktian yang ia punya akan lenyap dan kembali kepada Pangeran Sae Bagus Lana. Setelah mendengarkan nasehat sang guru, Pangeran Sae Bagus Lana mendatangi sebuah kampung untuk menjadi seorang pembuat gelang atau “pande gelang”. Lama kelamaan ia pun dikenal sebagai Pande Gelang dan akbar dipanggil Ki Pande.
            Pada suatu hari Pande Gelang sedang berjalan di Bukit Manggis, tidak sengaja ia melihat sang Putri yang tengah duduk termenung sendirian dengan mukanya yang tampak bersedih karena tidak mau menikah dengan Pangeran Cuhinin yang kejam dan bengis itu. Meskipun ia tahu itu kekasihnya tapi ia tidak ingin membongkar penyamarannya agar sang Putri tidak bertambah sedih. Akhirnya Pande Gelang memberanikan diri untuk menyapa sang Putri, ketika ia menyapanya tampaknya sang Putri kaget melihat keberadaan Pande Gelang. Sapaan Pande Gelang tidak sang Putri jawab. Putri Arum hanya terdiam mengamati lelaki tua yang sebenarnya adalah kekasihnya itu. Meskipun dengan wajah yang hitam legam dan tampak kusam, tapi Putri Arum tahu kalau lelaki tua ini berwatak baik, karena sang Putri yakin bahwa semua orang adalah orang baik. Dengan keyakinan itu, sang Putri tidak segan untuk menjawab sapaan lelaki tua itu
            Pande Gelang bertanya mengapa sang Putri berada di Bukit Manggis itu dengan wajah yang bersedih itu. Awalnya sang Putri tidak ingin menceritakannya, Pande Gelang pun tak memaksa agar sang Putri mau bercerita dengannya. Namun, ketika hendak pergi sang Putri akhirnya menceritakan masalah yang sekarang ia hadapi yaitu Pangeran Cunihin memaksanya untuk menjadi istri sang Pangeran, namun sang Putri tidak menyukai watak sang Pangeran yang kejam dan bengis. Tapi apa daya sang Putri tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghadapi sang Pangeran yang sangat berkuasa dan sakti mandraguna. Mendengar cerita itu Pande Gelang terdiam hatinya kian geram terhadap Pangeran Cunihin, ingin rasanya Pande Gelang segera menghajar Pangeran Cuhinin itu. Namun, ia redam amarahnya dan segera menenangkan hati sang Putri.
            Sang Putri juga menceritakan kenapa ia berada di Bukit Manggis itu, menurutnya ia mendapatkan sebuah wangsit untuk menenangkan diri di Bukit Manggis ini dan akan ada seorang Pangeran yang baik hati serta sakti mandraguna yang akan menolongnya keluar dari masalah. Namun harapannya mulai sirna, karena sudah sekian lama ia nantikan dewa penolong itu tak kunjung datang juga sesuai apa yang ada pada mimpinya itu. Padahal tiga hari lagi Pangeran Cunihin akan datang dan memaksanya untuk menikah dengan sang Pangeran bengis itu.
Pande Gelang kembali terdiam, orang yang dimaksud sang Putri sebagai dewa penolong itu adalah dirinya. Pande Gelang menyarankan agar sang Putri menerima keinginan dari Pangeran Cunihin itu, mulanya sang Putri menolak mendengar saran dari Pande Gelang. Namun setelah Pande Gelang menjelaskan pada sang Putri bahwa ia tidak menerimanya begitu saja melainkan dengan syarat yang sangat berat, yaitu Pangeran Cunihin harus melubangi sebuah batu keramat sehingga dapat dilewati oleh manusia lalu batu itu harus diletakkan disekitar pantai sebelum dilubangi. Pekerjaan itu memakan waktu sampai tiga hari, dengan demikian kesaktian Pangeran Cunihin akan hilang setengah.
Akhirnya sang Putri menerima saran dari Pande Gelang dan mengikutinya sampai ke kampung Pande Gelang untuk mengatur siasat. Ternyata untuk menuju ke kampung Pande Gelang saat jauh membuat sang Putri kelelahan dan jatuh pingsan disebuah batu cadas saat akan tiba dikampung Pande Gelang. Akhirnya sang Putri dibawa kerumah salah satu tetua dikampung itu dan diberi air yang keluar dari batu cadas tersebut. Mulai saat itu, Putri Arum dipanggil Putri Cadasari. Keesokkan harinya, Putri Cadasari kembali ke istana dengan diantar beberapa penduduk kampung, sementara Pande Gelang sibuk membuat gelang besar untuk dikalungkan pada batu keramat.
Pada hari yang ditentukan datanglah Pangeran Cunihin mengajak sang Putri menikah. Namun, sang Putri mengajukan sebuah syarat seperti yang disarankan oleh Pande Gelang. Dan syarat itu disanggupi dengan mudah oleh Pangeran Cunihin. Tanpa perasaan curiga Pangeran Cunihin mengerjakannya dalam waktu tiga hari, membawa batu itu ke pesisir pantai yang indah lalu melubanginya. Setelah selesai ia kembali untuk menjemput Putri Cadasari. Sementara itu Pande Gelang yang sedari tadi berada disemak-semak mengamati sang Pangeran, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera mengalungkan gelang besar itu pada batu keramat itu, namun sial ketika hendak kembali ke persembunyiannya sang Pangeran dan Putri Cadasari sudah tiba.
Pangeran yang melihat Pande Gelang yang tua dengan muka yang hitam legam itu, segera berteriak dan mencemoohnya sambil tertawa terbahak-bahak. Melihat pembicaraan itu, sang Putri menjadi bingung, keduanya seperti saling mengenal. Baru saja ingin bertanya, tiba-tiba Pangeran Cunihin menariknya untuk melihat batu keramat yang sudah dilubai itu. Dengan sikap tenang sang Putri memperlihatkan perasaan kagum pada apa yang dibuat Pangeran Cunihin, karena sangat kagum sang Putri meminta sang Pangeran untuk melewati lubang itu. Dan tanpa pikir panjang Pangeran Cunihin melewati lubang pada batu keramat itu, baru saja beberapa langkah sang Pangeran berteriak kesakitan dan tidak bisa menahan lagi rasa sakit itu. Setelah selesai melewati lubang tersebut hilanglah sudah kekuatannya. Ia pun berubah menjadi tua renta dan tak berdaya.
Pada saat yang bersamaan Pande Gelang juga berubah menjadi wujud aslinya. Putri Cadasari seolah tak percaya dengan keajaiban itu. Pangeran Pande Gelang pun menceritakan semuanya, seraya meninggalkan batu keramat itu. Dan beberapa waktu kemudian, mereka berdua menikah dan hidup bahagia.
Hingga sekarang tempat Pangeran Cunihin mengambil batu keramat itu dikenal sebagai Kramatwatu, sedangkan pesisir pantai tempat batu tersebut dilubangi dikenal sebagai Karang Bolong. Tempat Putri Cadasari menenangkan diri di Bukit Manggis sekarang dikenal sebagai Kampung Pasir Manggu. Lalu tempat Putri Cadasari pingsan kini bernama Cadasari di daerah Pandeglang. Kemudian tempat Pande Gelang membuat gelang dikenal dengan nama Pandeglang.
Amanat yang dapat kita ambil dari cerita diatas adalah janganlah suka menaruh iri hati serta dendam kepada orang lain karena akan menimbulkan sikap untuk berbuat apa saja agar bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Sumber: